Ling Mei berjalan keluar dari kediaman Walikota dengan langkah cepat. Udara malam yang sejuk tidak cukup menenangkan perasaan gelisah yang berkecamuk dalam dadanya.

Ia tidak mengerti. Sejak mengenal Xiao Ling, ada sesuatu yang terasa aneh. Ia merasa pemuda itu tidak asing, seolah mereka pernah bertemu sebelumnya, tetapi itu tidak mungkin. Tidak ada ingatan apa pun tentangnya.

Yang lebih mengganggunya adalah tatapan Xiao Ling. Cara pemuda itu memandangnya… seakan dirinya adalah orang lain, seseorang yang pernah Xiao Ling kenal.

Dan itu membuatnya marah.

Ia bukan orang yang terlalu suka jika didekati orang lain yang tidak dikenalnya, apalagi jika tanpa alasan yang jelas. Biasanya, ia bisa bersikap dingin tanpa peduli, tetapi setiap kali Xiao Ling berada di dekatnya, hatinya selalu terasa tidak nyaman, sesuatu yang sangat berbeda, bukan tidak nyaman seperti biasanya. Ada rasa jengkel, keinginan untuk marah, tetapi di saat yang sama… ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa melupakan pemuda itu begitu saja.

Menyadari bahwa pikirannya mulai melantur lagi, Ling Mei mendengus pelan. "Apa yang terjadi denganku?" gumamnya.

Ia memilih untuk pergi ke Paviliun Api Emas, berharap suasana di sana bisa mengalihkan pikirannya.

Sementara itu, setelah selesai mengobati Li Mei, Lynx keluar dari kediaman Walikota untuk mencari Ling Mei. Dia ingin mencoba mendekatinya lagi dengan cara yang berbeda sambil mencari tahu apakah memang Ling Mei sebenarnya adalah Leena atau bukan. "Pasti ada alasan dibalik ini semua." batin Lynx

Lynx menutup matanya sejenak, ia merasakan aliran energi di sekitarnya. Dengan kemampuannya dalam mendeteksi energi, menemukan Ling Mei bukanlah hal yang sulit. Di Kota Huoling, jumlah kultivator Master Foundation Emas Hitam sangat terbatas, dan aura kuat Ling Mei dengan cepat tertangkap olehnya.

Tanpa ragu, Lynx segera melangkah menuju tempat itu, dan tidak berapa lama setelah dia tiba ditempat energi Ling Mei dirasakan, dia menemukan dirinya berada di depan Rumah Makan Paviliun Api Emas. Lynx segera masuk dan mencarinya.

Setelah masuk, di lantai pertama, Lynx tidak menemukannya. Sehingga dia memutuskan naik ke lantai berikutnya.

Paviliun Api Emas adalah rumah makan terbesar dan terkenal di kota Huoling. Meski sama-sama memiliki tiga tingkatan dengan paviliun seribu rasa, namun dari sisi menu, kualitas dan pelayanan sangat berbeda jauh. Paviliun Api Emas yang ada di kota Huoling hanyalah salah satu cabang kecil, dari puluhan cabang lainnya yang berdiri hampir disetiap kota di Kerajaan Qingxuan. Berbeda dengan paviliun Seribu Rasa yang hanya ada di kota Huoling saja. Selain tiga tingkatan untuk ruang makan, terdapat satu tingkat lagi yang menjadi ruang khusus pemilik rumah makan tersebut.

Di dalam Paviliun Api Emas, Ling Mei duduk di dekat jendela, menatap langit malam yang gelap. Secangkir teh di hadapannya sudah mendingin, tetapi ia tidak terlalu peduli.

Pikirannya masih dipenuhi oleh satu sosok, Xiao Ling.

Bukan karena ia menginginkannya, tetapi karena perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali berhadapan dengan pemuda itu.

Ia tidak suka ini. Ia tidak suka caranya menatapnya, seolah dirinya adalah orang lain. Ia tidak suka perasaan tidak nyaman yang muncul setiap kali ia didekati.

Namun… mengapa ia juga tidak bisa mengabaikannya?

Langkah kaki mendekat. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

"Ling Mei," suara Lynx mengalun lembut, penuh kehangatan.

Ling Mei menghela napas pelan, tetapi tetap enggan menoleh. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya, nada suaranya terkesan dingin.

Lynx duduk di hadapannya tanpa menunggu izin, hatinya bertekad untuk menjelaskan sesuatu yang penting sebelum Ling Mei pergi lagi.

"Aku ingin memberitahumu sesuatu," ujarnya perlahan, suaranya berusaha menenangkan.

Ling Mei tetap diam, namun Lynx bisa melihat matanya sedikit menajam, menandakan bahwa ia masih mendengarkan setiap kata yang terlontar.

"Li Mei," lanjut Lynx, "penyakitnya sudah diketahui penyebabnya. Aku menemukan jarum pengunci sukma di dalam tubuhnya."

"Apa? Jarum Pengunci Sukma? Bagaimana benda spiritual berbahaya seperti itu bisa ada dalam tubuhnya? Dan bagaimana kau bisa menemukannya?" Tanya Ling Mei, rasa heran dan kekhawatiran tercermin jelas di wajahnya. Kagetnya tak bisa ditutupi mendengar kabar yang dibawa Lynx.

"Kebetulan aku memiliki cara untuk mendeteksinya. Aku mencobanya setelah melihat kondisinya yang masih tidak sadarkan diri," jawab Lynx, menjelaskan dengan penuh ketenangan.

"Walikota memberitahuku bahwa dia sudah sekian hari terbaring tak sadarkan diri. Kalaupun terbangun, hanya sebentar, tanpa ingatan, lalu tidak sadarkan diri kembali," kata Ling Mei, nada sedihnya menggema. "Tapi, baguslah kau bisa menemukan penyebabnya. Sekarang, kita hanya perlu mencari cara untuk mengeluarkan jarum itu. Sejauh yang aku tahu, hanya ada artefak khusus yang bisa mengeluarkan jarum tersebut, dan artefak itu juga bisa menyedotnya."

Ling Mei menghela napas panjang, pikirannya melayang pada kemungkinan orang yang mampu mengeluarkannya.

Lynx tersenyum dan berkata, "Kau tidak perlu cemas; aku sudah berhasil mengeluarkan jarum yang membuatnya tak sadarkan diri. Sekarang kita hanya perlu menunggu hingga dia sadar kembali."

Ling Mei menoleh, sorot matanya kini penuh perhatian. "Benarkah?"

Lynx mengangguk mantap. "Ya. Aku baru saja memastikan keadaannya sebelum ke sini."

Akhirnya, Ling Mei menatapnya langsung, mata mereka bertemu dalam keheningan yang mendalam. "Bagaimana mungkin kau melakukannya? Terlebih lagi menemukan jarum tersebut, sementara para tabib terbaik pun tak mampu melakukannya dan tidak dapat mendeteksinya dengan energi spiritual?"

Lynx tersenyum kecil, kerendahan hati terlihat jelas di wajahnya. "Seperti yang kubilang tadi, kebetulan aku memiliki sedikit pengetahuan dalam pengobatan."

Ling Mei terus menatapnya dalam diam, dan kali ini, tidak ada ketegangan dalam ekspresinya. Ia memang peduli pada Li Mei, dan mendengar bahwa kondisinya telah membaik sedikit mengurangi rasa jengkelnya terhadap Lynx.

Namun, sebelum Ling Mei bisa bertanya lebih lanjut, Lynx menatapnya dengan serius.

"Ling Mei," katanya dengan nada lebih dalam. "Aku ingin meminta maaf."

Ling Mei menatapnya, sedikit bingung. "Untuk apa?"

"Aku menyadari kesalahanku," ujar Lynx. "Aku telah bersikap tidak sopan dan membuatmu tidak nyaman dengan menatapmu seperti kau adalah seseorang yang aku kenal. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

Ling Mei tidak segera menjawab. Ia memandang Lynx dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Sebagian dari dirinya merasa lega, inilah yang ia inginkan, agar pemuda ini berhenti bersikap seolah ia adalah seseorang yang lain. Tetapi… mengapa ada sedikit perasaan tidak nyaman saat mendengarnya? Terdapat rasa kecewa yang melintas dihatinya.

Setelah beberapa saat, ia mengalihkan pandangannya. "Bagus kalau kau sadar."

Lynx hanya tersenyum kecil. Ia tidak tahu apakah Ling Mei benar-benar puas dengan permintaan maafnya atau tidak, tetapi setidaknya, ia telah mengatakan apa yang perlu dikatakan.

Namun, sebelum percakapan mereka bisa berlanjut lebih jauh, seorang pelayan datang menghampiri mereka.

"Tuan Zhen Huan ingin bertemu dengan kalian berdua," katanya dengan hormat.

"Tuan Zhen?" Kata Ling Mei pelan, seolah bertanya kepada dirinya sendiri. Dia lalu menatap Lynx, karena merasa tidak mengenal nama tersebut.

"Apakah tuan Zhen Huan ini orang yang sama dengan pemilik penginapan Bulan Perak?" tanya Lynx dengan penasaran.

Pelayan itu mengangguk,"Betul sekali tuan muda. Tuan Zhen Huan adalah pemilik paviliun Api Emas dan paviliun Bulan Perak."

Ling Mei menoleh ke arah Lynx dengan tatapan penuh selidik, tetapi Lynx hanya mengangkat bahu.

"Kenapa tuan Zhen mengundang kami?" Tanya Lynx sambil menatap tajam pelayan tersebut.

"Saya tidak tahu tuan, saya hanya diperintahkan." Jawab pelayan.

"Baiklah," kata Lynx. "Ayo temui dia."

Ling Mei  dengan malas, mengikuti Lynx dan pelayan menuju ruang pribadi di lantai atas Paviliun Api Emas. Ruangan itu luas dan dihiasi dengan furnitur mewah. Aroma teh berkualitas tinggi memenuhi udara, menciptakan suasana yang tenang namun penuh kewibawaan.

Di dalam, seorang pria paruh baya duduk dengan santai di belakang meja kayu berukir, seolah telah menunggu kedatangan mereka. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam, penuh perhitungan, Zhen Huan.

